Kamis, 30 Juli 2009

Kayalah Lalu Masuk Surga!

Dari Abi ‘Abdillah Tsauban Bin Bujdad bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Dinar yang paling utama yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk kendaraannya di jalan Allah, dan dinar yang ia infakkan untuk rekan-rekannya (yang tengah berjuang) di jalan Allah.” (Muslim)


Dalam kitab Nuzhatul-Muttaqin (syarah Riyadush-Shalihin karya Imam An-Nawawi) disebutkan, hadits itu menjelaskan peringkat keutamaan pengeluaran harta (infak) bahwa memberi nafkah kepada keluarga merupakan infak yang paling mulia. Dalam hadits lain disebutkan:


“Dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk (mememerdekakan) hamba sahaya, dinar yang engkau infakkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau infakkan untuk keluarga, yang paling utama di antara semua itu adalah dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu.” (Muslim)


Ke manapun alokasinya, yang jelas seseorang tidak mungkin dapat berinfak jika tidak memiliki harta. Lebih-lebih jika kita mencermati ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan kita terlibat dalam jihad. Selalu saja disandingkan antara kewajiban berjihad dengan jiwa dengan kewajiban berjihad dengan harta. Bahkan dari semua ayat yang memerintahkan kita berjihad dengan harta dan jiwa, berjihad dengan harta selalu didahulukan kecuali pada satu ayat saja yakni ayat 111 surah At-Taubah, yang maknanya:


“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka dengan mendapatkan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.”


Selebihnya, hartalah yang disebut terdahulu. Perhatikan ayat-ayat berikut:

“Wahai orang-orang yang beriman, inginkah kalian aku tunjukkan pada suatu perniagaan yang menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih. Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kalian berjihad di jalan Allah denganh harta dan jiwa kalian.” (Ash-Shaf: 10-11)

Ini diperkuat dengan adanya kewajiban zakat. Dalam urusan yang satu ini memang ada kesalahan persepsi pada sebagian kaum muslimin. Kewajiban zakat sering dipahami begini: kalau punya harta, zakatlah; kalau tidak punya, tidak usah mengeluarkan zakat. Secara fiqih, pemahaman itu sangat benar. Tapi semangatnya bukanlah semangat kepasrahan pada keadaan. Semangat perintah zakat harusnya dipahami: carilah uang, kumpulkanlah harta agar dapat melaksanakan perintah Allah yang bernama zakat. Seharusnya kita membawa semangat shalat untuk diterapkan pada zakat. Kita selalu berpikir kita harus bisa melaksanakan shalat dengan segala perjuangan yang menjadi konsekuensinya. Dari mulai mencari penutup aurat, mencari tempat shalat, menentukan arah kiblat, mensucikan diri, dan seterusnya.


Itu semua mematahkan anggapan yang masih dianut sebagian orang bahwa kesalihan dan ketakwaan identik dengan kepapaan, kemelaratan, kesengsaraan, dan ketertindasan. Seolah-olah hanya orang miskin, jelata, dan tertindaslah yang layak menghuni surga. Sebaliknya orang kaya dan orang yang punya jabatan tidak punya tempat di surga. Ini diperparah dengan sering disitirnya hadits-hadits dha’if (lemah) atau bahkan maudhu’ (palsu) yang memberikan pesan untuk menjauhi dunia sejauh-juahnya demi mencapai ketakwaan dan kesucian jiwa. Atau mungkin juga menyitir hadits shahih tentang zuhud dengan pemahaman yang salah.

Zuhud tidaklah identik dengan melarat. Zuhud adalah kepuasaan hati dengan apa yang diberikan Allah swt. Zuhud adalah ketiadaan ikatan hati kepada kekayaan. Bahwa sambil merasa puas dengan apa yang Allah berikan dan sambil meniadakan ikatan hati dengan harta seseorang memiliki harta dan jabatan, tidaklah menafikan sifat zuhud.


Utsman Bin ‘Affan adalah konglomerat dan kaya raya. Beliau termasuk sahabat Nabi saw. yang dijamin masuk sorga. Demikian pula halnya dengan ‘Abdurrahman Bin ‘Auf. Beliau sukses dalam bisnis dan menjadi saudagar kaya raya. Toh beliau juga termasuk yang dijamin masuk surga. Umar Bin ‘Abdul-‘Aziz, khalifah yang kaya raya. Tapi justeru dia termasuk orang zuhud.

Posisi harta dalam Islam sama dengan posisi kemiskinan: sebagai ujian bagi manusia. Dengan kekayaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kekayaan pula orang bisa masuk neraka. Dengan kepapaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kepapaan pula orang bisa masuk neraka. Semuanya ujian! Allah swt. menegaskan:


“Dan Kami coba kalian dengan keburukan dan kebaikan, (semuanya) sebagai ujian.” (Al-Anbiya: 35)


Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya dunia itu manis dan menghijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya untuk melihat (menguji) bagaimana kalian bekerja. Maka berhati-hatilah dengan dunia dan berhati-hatilah dengan wanita. Karena sesungguhnya fitnah Bani Israil adalah pada wanita.” (Riwayat Muslim)


Jadi, orang yang saleh bukanlah orang memilih meninggalkan harta melainkan yang lulus dalam ujian mengelola harta itu. Seseorang dianggap lulus ujian dalam urusan harta manakala:


Hanya menempuh cara halal untuk memperoleh harta.

Pada hari kiamat, setiap orang akan diminta pertanggungjawaban terkait dengan hartanya, dari manakah ia memperolehnya dan dengan cara apa? Ini batu ujian pertama. Rasulullah saw. bersabda:


Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman seperti yang diperintahkan kepada para rasul. Dia berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari yang baik dan beramal salehlah karena sessungguhnya Aku mengetahui apa yang kamlian lakukan’. Dia juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik dari yang Kami rezekikan kepada kalian’.” Lalu Rasulullah saw. menerangkan tentang orang yang mengadakan perjalanan panjang, kusut masai dan berdebu. Ia mengadakahkan kedua tangannya (berdoa) ke langit (sambil mengatakan): Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dari yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan.” (Muslim)


Harta itu tidak menyebabkan sombong

Orang yang suksus mengelola harta adalah orang yang dengan hartanya justeru semakin rendah hati dan menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan atau amanah dari Allah. Abdurrahman bin ‘Auf yang padahal termasuk orang yang dijamin masuk surga pernah berlinang air mata saat dirinya siap menyantap hidangan lezat yang ada di hadapannya. Ketika ditanya penyebab ia menangis, ia menjawab, “Aku takut hanya yang kunikmati di dunia inilah yang menjadi ganjaranku dari Allah.”


Menjadi fasilitas untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik harta yang saleh adalah yang ada pada orang saleh.” Beliau juga memerintahkan kepada kita, “Jauhkanlah dirimu dari neraka walau dengan hanya sebelah kurma.”


Menjadi fasilitas untuk silaturahim.

Infaq adalah baik. Dan infaq kepada kerabat adalah lebih baik lagi. Karena selain bernilai taqarrub, perbauatan itu juga merupakan upaya silaturahim. Rasulullah saw. bersabda, “Shadaqah kepada orang misikin adalah satu shadaqah dan shadaqah kepada orang yang punya hubungan rahim (kerabat) adalah dua shadaqah: shadaqah dan shilah (menyambungkan).” (At-Tirmidzi)


Menjadi fasilitas untuk perjuangan.

Perjuangan Islam jelas tidak mungkin tanpa dukungan finansial. Kekuatan orang-orang kafir harus dihadapi dengan kekuatan optimal kaum muslimin. Dan ini tentu saja salah kekutan itu adalah kekuatan maliyyah (finansial).


Itulah sebagian ajaran Islam yang terkait dengan kekayaan. Jadi, menjadi orang kaya, siapa takut? Allahu a’lam.


Oleh: Rikza Maulan, M.Ag


Rabu, 29 Juli 2009

Sholat Subuh di Masjid





Seorang pria bangun pagi2 buta utk sholat subuh di Masjid.

Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid .

ditengah jalan menuju masjid , pria tsb jatuh dan pakaiannya kotor.

Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali kerumah. Di rumah,

dia berganti baju, berwudhu, dan, LAGI,

berjalan menuju masjid .


Dalam perjalanan kembali ke masjid , dia jatuh lagi di tempat yg sama!

Dia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali kerumah.

Dirumah, dia, sekali lagi, berganti baju,

berwudhu dan berjalan menuju masjid.
Di tengah jalan menuju masjid ,
dia bertemu seorang pria yg memegang lampu.

Dia menanyakan identitas pria tsb, dan pria itu menjawab :

"Saya melihat anda jatuh 2 kali di perjalanan menuju masjid, jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan anda."

Pria pertama mengucapkan terima kasih dan mereka berdua berjalan
ke masjid.

Saat sampai di masjid , pria pertama bertanya kepada pria yang

membawa lampu untuk masuk dan sholat subuh bersamanya.

Pria kedua menolak.

Pria pertama mengajak lagi hingga berkali2 dan,

lagi, jawabannya sama.

Pria pertama bertanya, kenapa menolak untuk masuk dan sholat.

Pria kedua menjawab



Aku adalah Setan


Pria itu terkejut dgn jawaban pria kedua.

Setan kemudian menjelaskan,

'Saya melihat kamu berjalan ke masjid ,

dan sayalah yg membuat kamu terjatuh. Ketika kamu pulang ke rumah,

membersihkan badan dan kembali ke masjid ,

Allah memaafkan semua dosa2mu.

Saya membuatmu jatuh kedua kalinya, dan

bahkan itupun tidak membuatmu merubah pikiran untuk tinggal dirumah saja,

kamu tetap memutuskan kembali masjid .

Karena hal itu, Allah memaafkan dosa2 seluruh anggota keluargamu.

Saya KHAWATIR jika saya membuat mu jatuh utk ketiga kalinya,

jangan2 Allah akan memaafkan dosa2 seluruh penduduk desamu,

jadi saya harus memastikan bahwa anda sampai dimasjid dgn selamat..

Pesan Moral:

1. Jadi, jangan pernah biarkan Setan mendapatkan keuntungan dari setiap aksinya.

2. Jangan melepaskan sebuah niat baik yg hendak kamu lakukan karena kamu tidak pernah tahu ganjaran yg akan kamu dapatkan dari segala kesulitan yg kamu temui dalam usahamu utk melaksanakan niat baik tersebut.

Sumber: kaskus.us

Selasa, 28 Juli 2009

ROAD TO SUCCESS



















Thinking out of the box

Bagaimana cara berpikir "diluar kotak" atau "thinking out of the box". Mengapa cara berpikir ini bisa menjadi jalan meraih sukses?

Logikanya sedehana saja. Jika kita bertanya seberapa besar ruang yang ada di dalam sebuah box? jawabannya relatif. Namun jika kita bertanya seberapa besar ruang yang ada di luar box tersebut? jawabannya adalah no limit.

Untuk mengetahui cara pikir diluar kotak, selayaknya kita tahu dulu apa yang dimaksud berpikir di dalam kotak. Cara berpikir ini artinya kita menerima status quo, kita berpikir secar umum, normal dan rutin.

Orang yang hanya membatasi dirinya dalam pikiran "inside the box" akan kesulitan dalam membedakan "suatu kualitas ide". ide adalah ide, solusi adalah solusi. Mereka sangat jarang menginvestasikan waktunya untuk memikirkan "a great solution". Mereka juga percaya bahwa setiap masalah hanya memerlukan satu solusi, sedangkan menemukan lebih dari satu kemungkinan alternatif solusi hanyalah buang-buang waktu.

Sedangkan "berpikir di luar kotak" yaitu suatu cara berpikir di luar kebiasaan umumnya, atau berbeda dalam memecahkan suatu permasalahan dengan menggunakan perspektif baru. Cara berpikir ini menyenangi ide-ide baru dan terkadang ide gila yang keluar jalur.

Dalam sebuah iklim persaingan bisnis, nuansa kompetitif pasti selalu hadir. Karena itu menurut Tung Desem Waringin, motivator marketing terkenal, ada baiknya untuk selalu belajar Thinking Out of The Box. Karena dibanding mereka yang bertarung di red ocean (market yang banyak sekali pemain). Anda bisa tetap bermain dan tetap mendapatkan profit dengan bermain di luar kotak.

Ia memberikan contoh pada zaman wild-wild-west. Kala itu terjadi trend menggali emas dan tiba-tiba semua orang pergi ke barat untuk menggali emas. Tetapi tahukah anda siapa yang paling kaya? Apakah yang menggali emas? Bukan.

Ternyata yang paling kaya adalah yang menjual sekop dan jeans. Mengapa? Karena disaat semua ikut-ikutan menggali emas, mereka tiba-tiba mempunyai kebutuhan yang sama yaitu celana jeans dan sekop.

Jadi pada saat itu orang-orang yang dapat melihat peluang bisnis tersebut, akan menjual jeans atau sekop karena mereka tidak ikut-ikutan mencari emas tapi fokus apa yang akan di cari saat trend emas itu terjadi. Ingat akan peluang yang bisa dijadikan bisnis saat semua orang lari menuju sebuah trend.

Ada beberapa sikap yang harus dimiliki agar anda mampu terus melatih cara "berpikir di luar kotak". Antara lain:

1. Cari ide-ide dan ekspektasi baru dari hari ke hari.

Bagi orang sukses, hari demi hari adalah akumulasi dari gagasan demi gagasan untuk membuat hidupnya termasuk orang-orang disekitarnya menjadi lebih baik. Ide dan gagasan bisa didapat dari observasi langsung di lapangan, brainstorming dengan komunitas anda, bisa juga dengan membaca buku tentang kisah sukses tokoh terkenal karena disana banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Dalam membicarakan gagasan pastilah akan muncul pertentangan maupun kritikan. Respon apapun dari sebuah ide jadikanlah itu sebagai lahan evaluasi untuk perbaikan.

2. Fokus dalam menemukan ide-ide baru.

Saat memulai sebuah bisnis, tentu anda sering mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan. Apalagi dengan begitu banyaknya informasi yang dapat kita temukan. Mengambil banyak pilihan pada waktu bersamaan hanya membuat anda bekerja setengah-setengah.

Dengan komitmen, konsentrasi tinggi, dan tetap fokus dalam melaksanakan dan berusaha terhadap apa yang kita kelola, niscaya ide-ide cemerlang pasti akan muncul. Ini bisa dilatih dengan cara sederhana, mulailah menulis apa tujuan anda, biasakan mencatat kemajuan yang telah diraih, lalu tentukan langkah selanjutnya dan pasang target waktu.

3. Terbuka pada sesuatu yang berbeda.

Rasa percaya dan kebesaran hati untuk membuka diri terhadap hal-hal yang berbeda dengan cara pandang anda merupakan unsur yang dimiliki banyak orang sukses. Sebuah kesempatan hanya mungkin ditangkap oleh orang yang memiliki pikiran yang lebih terbuka dalam melihat masalah sebagai peluang dan tentu saja tahu bahwa apapun yang ada disekelilingnya bisa dijadikan sebagai sarana untuk mewujudkan cita-cita.

Memperbanyak relasi, termasuk pula orang-orang yang sering mengkritik anda. Jadikan mereka sebagai mitra dalam bertukar pikiran. Pengkritik yang tulus pada dasarnya bertujuan membantu anda meraih jenjang sukses yang lebih tinggi.

4. Berpikir positif setiap saat.

Dengan berpikir positif, maka perbuatan kita akan didasarkan oleh getaran-getaran positif. Caranya dengan pandai-pandailah mensyukuri hasil yang telah anda raih.

5. Jadilah pendengar yang baik.

Menajdi pendengar yang baik berarti anda benar-benar terlibat dalam pembicaraan, bersikap benar, dan penuh empati terhadap lawan bicara. Dengan menjadi pendengar yang baik, anda akan memiliki segudang pengalaman dari banyak lawan bicara. Disitu terangkum seribu satu permasalahan beserta solusi yang terkadang memang tak anda dapatkan dalam teori, buku maupun literatur umumnya.


Sumber: Harian Tribun Kaltim hari ini..