Jumat, 14 Agustus 2009

Ketika Rajab Menyapa


dakwatuna.com Jiwa seorang mukmin pasti masih bergantung dengan bulan Ramadhan nan penuh berkah… Kenapa tidak? Karena Ramadhan adalah bulan Al Qur’an, bulan Lailatul Qadr, Bulan permulaan turunnya wahyu untuk misi besar di dunia… keutamaan bulan Ramadhan masih sangat kuat melekat dalam pikiran setiap muslim atau muslimah.

Sungguh, para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim berdo’a kepada Allah swt. agar dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan enam bulan sebelum kedatangannya. Dan mereka bedo’a kepada Allah swt. selama enam bulan setelahnya agar Allah swt. menerima amal perbuatan mereka. Oleh karena itu, mereka merasakan hubungan yang sangat dekat dengan Ramadhan, sepanjang tahun.

Ramadhan menghendaki adanya keinginan kuat dan persiapan matang sebelumnya, agar kebaikan-kebaikannya dapat diraih, tak ada yang terlewatkan.

Dalam realitas keseharian, kita melihat bahwa sebagian keluarga menyiapkan investasi besar guna menyiapkan masa depan keluarga lebih baik, apakah guna menikahkan anaknya atau membangunkan rumah bagi mereka atau lain sebagainya.

Sebagaimana juga kita melihat klub sepak bola misalkan, mereka mempersiapkan tim dengan sebaik-baiknya sebelum musim pertandingan tiba. Semakin optimal persiapan itu, maka semakin optimis mereka meraih kemenangan, dan mereka pasti akan menang sebanding dengan usaha mereka.

Itulah kesibukan manusia dalam mengurus dunianya…Kita juga melihat sekelompok lain yang menyiapkan diri unutk berjumpa dengan bulan Ramadhan, jauh-jauh hari sebelum kedatangannya, dengan berbagai persiapan dan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam rangka optimalisasi Ramadhan. Seperti, siaran-siaran lewat darat atau udara atau via internet dan beragam ansyithah atau kegiatan ibadah Ramadhan.

Kembali ke dunia olah raga, jika ada pemain tanpa lebih dahulu mengadakan pemanasan, bisa dipastikan dirinya akan mengalami gangguan keseimbangan, keseleo dan tidak bisa melanjutkan pertandingan. Contoh lain, olah raga lari maraton, pelari yang cerdas tidak akan menghabiskan energinya di awal start. Jika kita amati bersama, orang yang di awal start larinya kencang dan berada di depan, bisa dipastikan ia tidak akan kelihatan dalam fisnish duluan, menjadi pemenang.

Begitu juga dengan Ramadhan, bahkan lebih mulia dan lebih utama dibandingkan hanya sekedar permainan bola dan lari maraton.

Ramadhan menuntut adanya persiapan matang dan bertahap jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga ketika Ramadhan menyapa kita, kita semua telah siap menjemputnya, mengisinya.

Adapun orang yang tidak menyiapkan diri untuk menjemputnya, kecuali ketika Ramadhan sudah datang menghadap, boleh jadi kita lihat di awal bulan ia berada di barisan shalat paling depan, namun kemudian kita tidak melihat batang hidungnya di akhir bulan!

Petani yang mahir, ia akan memulai menggarap sawahnya dengan membersihkan ladang dari tanaman liar, menggemburkan ladang dan mengairinya, kemudian ia menanam benih, merawat dan menjaganya. Ketika waktu musim panen tiba, ia akan mendapatkan hasil panen yang sangat memuaskan.

Mari, kita semua mempersiapkan diri sesuai kadar optimal kemampuan kita dalam peribadatan dan keta’atan, guna menyambut Ramadhan, guna panen kebaikan Ramadhan.

Mari, kita hilangkan sikap malas, futur, leha-leha, dan terlenakan dengan dunia… kita ganti dengan menebar benih, benih semangat dan tekad kuat… Ketika bulan Sya’ban menyapa kita, kita telah mengkondisikan jiwa dan hati kita dengan semangat dan tekad kuat untuk ta’at… Sehingga ketika Allah swt. menakdirkan kita berjumpa dengan Ramadhan, kita akan panen… Panen taqwa, panen wara’, panen tangisan karena takut kepada Allah swt, panen interaksi bersama Al Qur’an, panen kebaikan, panen amal shaleh, panen berbuat baik kepada sesama… dan panen semua nilai kebaikan.

Ya Allah, sampaikan kami berjumpa dengan bulan Ramadhan, Amin. Allahu a’lam.


Senin, 03 Agustus 2009

Catatan Iseng


Aku tak pernah menyesal mencintaimu, yang ku sesali mengapa tidak dari dulu mengenalmu hingga aku bisa mencintaimu lebih dulu dibandingkan dirinya… Namun itulah kehidupan, semuanya telah diatur oleh-Nya. Aku hanya lelaki yang memandang dirimu sebagai wanita yang seandainya dapat kumiliki. Namun semua itu hanya impian semata..

Cinta dapat datang dan pergi dengan mudahnya, tak ada manusia manapun yang dapat mengahalangi kedatangan dan kepergiannya. Begitu pula diriku yang tidak bisa menghalangi datangnya cinta itu hingga saat ini jauh dilubuk hatiku kau tetap ada, namamu telah tertulis disana dan tak mungkin ku dapat menghapusnya atau ku kembali mengingatnya. Karena bagiku kau telah menjadi kenangan terindahku.

Detik demi detik yang kita lalui bersama, merupakan momen terindah dan terbaik yang aku dapatkan bersamamu, walaupun hanya sekejap. Waktu begitu cepat berlalu seakan tak pernah mendengar keluhanku agar dapat terus dan selalu bersamamu.

Andai dapat kuulang kembali tentu ku tak akan menyia-nyiakan semua itu. Aku ingin kembali melihat wajahmu, senyummu, tawamu, semua dari dirimu yang membuatku selalu ingin bersamamu hingga akhir perpisahan kita… Impian yah aku hanya bisa katakan itu sebuah mimpi yang akan selalu terbayang ketika ku tertidur dan buyar ketika ku terbangun di pagi hari.

Sekarang tak banyak yang bisa aku lakukan dengan dirimu, kau tak lagi sama seperti yang dulu. Roda kehidupan akan selalu berputar, andai kata kita berjodoh tentunya kita akan bertemu, entah dimana, akankah didunia yang fana ini atau di alam lainnya. Harapanku sekarang kau dapat bahagia. Entah sampai kapan aku akan selalu mengenangmu, tapi kuharap hingga detik akhirku menghirup udara di dunia ini kau tetap menjadi kenanganku...



Always Remember You

(26 Januari 2006)